CORPORATE CULTURE & PERFORMANCE

Stie-Ibmt-IBMT

CORPORATE CULTURE & PERFORMANCE oleh Bp.Imam Wijoyo (Chairman STIE IBMT Surabaya)

Direncanakan atau tidak, budaya perusahaan itu pasti ada disetiap perusahaan, institusi dan organisasi. Apabila sebuah organisasi tidak merencanakan, menetapkan, dan membentuk sebuah budaya organisasi, maka budaya organisasi yang tidak direncanakan, tidak ditetapkan dan tidak dibentuk itulah yang terbentuk. Jadi, tidak dapat dikatakan bahwa sebuah organisasi tidak memiliki budaya hanya karena pemimpin dan seluruh jajarannya tidak pernah membicarakannya. Idealnya, budaya perusahaan perlu dikaji, dirancang, direncanakan serta dibentuk agar terjadi budaya perusahaan yang sesuai harapan.

Membentuk budaya organisasi bukanlah hal sederhana seperti membalikkan telapak tangan, juga membutuhkan proses waktu yang tidak pendek dalam implementasinya. Proses pembentukan budaya perusahaan ini membutuhkan waktu, pikiran, tenaga dan mental dalam pelaksanaanya, dan didalam era global yang kompetitif ini, hal-hal tersebut menjadi langka dimiliki oleh perusahaan. Lebih jauh lagi, hal budaya organisasi yang abstrak ini juga tidak dapat dilihat langsung implikasinya terhadap performance (kinerja) dalam jangka pendek.

Disisi lain, budaya organisasi adalah faktor penting dalam peningkatan kinerja sumber daya manusia. Sama pentingnya seperti kita mengenal budaya sebuah negara yang sangat berkaitan dengan kebiasaan kerja sebuah bangsa. Contohnya, dinegara tropis yang tergolong nyaman seperti Indonesia, ditambah dengan sumber daya alam yang melimpah, gemah ripah loh Jinawi ini, masyarakat Indonesia tergolong yang memiliki etos kerja yang rendah dibandingkan dengan Jepang, yang mana negaranya sering mengalami gempa bumi, sumber daya alam terbatas dan luluh lantak sejak pemboman Hiroshima dan Nagasaki di sekitar tahun 1945-an.

Masyarakat Indonesia memiliki perumpamaan bahwa hanya melempar bibit ditanah-pun, akan tumbuh tanaman tersebut, sedangkan di Jepang, mereka diharuskan memiliki jiwa survival yang kuat untuk menghadapi gempa bumi yang sering terjadi, sehingga bentuk rumah dan konstruksi bangunan-nya pun harus menyesuaikan untuk tahan gempa. Orang Jepang harus berpikir keras untuk bertahan, sedangkan orang Indonesia tidak sekeras yang dibutuhkan orang di Jepang.

Keadaan dan kondisi tersebut mau tidak mau mempengaruhi etos kerja dan kinerja masyarakatnya. Alhasil, dapat kita lihat ketika bencana yang terjadi baru-baru ini. Kita dapat melihat betapa luar biasa cara kerja, semangat dan disiplin orang-orang Jepang dalam menghadapi badai yang menerpa negaranya tersebut. Hal yang kontras dapat kita lihat dari penanganan korban tsunami Aceh di Indonesia, Gunung Merapi, dan sebagainya.

Hal ini juga berlaku didalam perusahaan. Sumber daya manusia sebuah organisasi yang ber-kinerja tinggi hampir dapat dipastikan bahwa organisasi tersebut memiliki nilai-nilai, yang mendorong pada produktifitas kerja, entah disadari atau tidak.

Budaya organisasi erat hubungannya dengan kinerja untuk jangka panjang seperti halnya dibahas oleh John P.Kotter & James L. Heskett yang menekankan dalam study-nya menunjukkan bahwa:
1. Corporate Culture can have a significant impact on a firm’s long-term economic performance,
2. Corporate culture will probably be an even more important factor in determining the success or failure of firms in the next decade,
3. Corporate cultures that inhibit strong long-term financial performance are not rare; they develop easily, even in firms that are full of reasonable and intelligent people,
4. Although tough to change, corporate cultures can be made more performance enhancing.

Berdasarkan uraian dan penelitian kedua pakar tersebut, secara realistik, budaya organisasi dengan keberhasilan sebuah organisasi memiliki keterkaitan yang erat.

Seorang Filsuf bernama Franchis Schaeffer, pernah bertutur,”…I do what I think, and I think what I believe…”. Disana kita dapat melihat bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh pikiran atau paradigma-nya, dan pikirannya adalah hasil dari apa yang dipercayanya. Apa yang dipercaya oleh seseorang merupakan value system didalam alam pikirannya. Apabila kita ingin mengubah perilaku seseorang yang tidak benar, maka yang perlu dilakukan adalah mengetahui mengapa orang tersebut ber-perilaku demikian (the why, menunjukkan pola pikirnya); dan ditelusuri lebih dalam lagi dengan why of the why, untuk meraba apa nilai-nilai yang dianutnya.

Agar perilaku yang benar berlangsung lebih permanen, maka akan lebih efektif dan tahan lama apabila nilai-nilai yang menunjang untuk melakukan perilaku benar tersebut dianut didalam value system orang tersebut. Sebab orang tidak bisa melakukan sesuatu secara konsisten tanpa memiliki keselarasan antara apa yang dipercayanya, dengan yang dipikirkannya, dengan perilakunya.

Dengan demikian, kita dapat melihat lebih jelas korelasi antara budaya organisasi yang mengandung nilai-nilai organisasi didalamnya, dengan produktifitas atau kinerja sumber daya manusia-nya. Sebab, terjadinya satu ”engagement” antara nilai-nilai organisasi dengan nilai-nilai orang-orangnya, maka keselarasan terjadi, kemudian sinkronisasi tujuan mulai dilakukan.

Nilai-nilai orang-orang dan organisasi yang selaras dan sejalan tersebut menumbuhkan kesehatian dalam bekerja; kesehatian menimbulkan komitmen; dan akhirnya sense of ownership mulai berakar dalam diri orang-orang dalam organisasi tersebut. Alhasil, perjuangan untuk sesuatu yang menjadi bagian dari dirinya ini mulai bergulir dan menggelinding.

Lahirnya Core Values IBMT

Dari latar belakang itulah lahir Core Values IBMT berupa akronim IBMT, yang menjadi pedoman dan nafas setiap insan di IBMT. Nilai inti tersebut meliputi Integrity, Breaktrhough, Magnificence dan Togetherness. Dibawah ini akan dibahas satu per satu isi dan esensi nilai dari tiap-tiap bagiannya.

Integrity

Kategori utama orang didalam memilih teman, sahabat, pasangan hidup, atasan, bawahan, partner kerja, kebanyakan adalah integritas-nya. Bahkan sebuah organisasi mafia sekalipun memiliki nilai-nilai kesetia-kawanan yang kuat, dan saling melindungi.
Oleh karena itu, Integritas merupakan dasar bagi nilai-nilai IBMT yang lain. Hal ini berlaku bagi segenap rakyat IBMT, dari management, staff, dosen sampai ke mahasiswa didalam setiap aspek kehidupannya.

Integritas merupakan keutuhan antara prinsip, nilai hidup, pikiran, perasaan, serta perilaku. Bisa dikatakan juga integritas adalah konsistensi antara apa yang dipercaya, dipikirkan dan dilakukan. Ketika seseorang melakukan hal yang kontra dengan nilai-nilai dirinya, maka kegundahan dan kegelisahan terjadi dalam dirinya, kecuali orang-orang tertentu yang hati nurani-nya sudah kebal.
Selain integritas menjadikan seseorang lebih utuh dan profesional dalam berkarya, manusia yang berintegritas memiliki kehidupan yang lebih bahagia. Tidak ada hal yang perlu ditutup-tutupi, tidak perlu mengingat kebohongan-kebohongan yang telah dilakukan agar tidak ketahuan, serta dapat menjadi diri sendiri. Sehingga lebih memungkinkan bagi kita untuk mengisi hal-hal yang positif dan konstruktif didalam kepala kita.

Breakthrough

Setiap manusia akan melalui perjalanan terobosan satu ke terobosan yang lain. Mungkin breakthrough pertama yang disadari dalam hidup adalah ketika pertama kali kita masuk Taman Kanak-kanak. Dari kondisi yang selama ini tinggal dirumah bersama orang tua dan saudara, tiba-tiba sudah waktunya untuk keluar dari rumah selama beberapa jam tanpa orang tua, melainkan berproses dengan guru-guru dan teman-teman yang belum pernah ditemui sebelumnya.

Perjalanan breakthrough demi breakthrough kita lalui, ada perjalanan yang mudah dan tidak menyakitkan, ada pula perjalanan yang menyakitkan hati dan menuntut pikiran kita. Namun, setiap breakthrough yang dilakukan diiringi dengan pengembangan kapasitas kita sebagai manusia.

Begitu juga di sebuah organisasi, baik profit maupun non-profit, breakthrough dibutuhkan untuk dapat terus memberikan nilai tambah bagi segenap stakeholders. Pemikiran terobosan dibutuhkan untuk dapat melakukan pemecahan masalah dengan efektif, serta dalam berinovasi untuk memberikan nilai tambah yang unik didalam era yang kompetitif ini.

Dan sebelum breakthrough dapat menghasilkan produktifitas, kita perlu melakukan terobosan kedalam diri terlebih dahulu, yaitu menerobos keluar dari belenggu diri kita.

Magnificence

Dengan bekal integritas telah menjadi dasar nilai dalam setiap aspek kehidupan kita, manusia lain dapat mempercayai dan mengandalkan kita. Berikutnya, integritas itu perlu dibuktikan dengan profesionalitas dalam memberikan nilai tambah yang diatas ekspektasi manusia sekitar dengan ide-ide dan aksi-aksi yang menerobos pemikiran-pemikiran kebanyakan.

Setelah itu, semangat keagungan (Magnificence) atas keberadaan kita disetiap lingkungan akan menjadikan kehadiran kita menjadi bermakna bagi masyarakat sekitar. Inti dari magnificence adalah bagaimana kita menjadi bermakna dilingkungan tempat kita hidup sehari-hari, melalui apa yang kita kerjakan, apa yang kita lakukan, apa yang kita karyakan dan apa yang kita miliki. Bermakna dengan upayanya memegang nilai-nilai keagungan, bermakna dalam berkarya dan profesionalitas, serta bermakna dalam memberikan makna kepada orang lain.

Togetherness

Aspek nilai terakhir adalah Togetherness atau kebersamaan. Dasar Integritas telah mendarah daging di dalam setiap perilaku kita, pikiran-pikiran breakthrough mewarnai karya kita, dan keberadaan yang bermakna, Magnificence tidak-lah lengkap tanpa hubungan horisontal dengan sekitar, yaitu Togetherness.

Manusia IBMT seyogyanya menjadi manusia yang peka dan peduli dengan kondisi dan keadaan sekitarnya, sehingga didalam berbisnis maupun ber-profesi, pertimbangan kemanusiaan terus melekat didalam diri kita.

Ujian integritas, breakthrough, dan Magnificence kita adalah didalam Togetherness/ rasa kebersamaan dengan teman, rekan, maupun manusia sekitarnya, sehingga hal ini terus menggugah hati nuraninya untuk sukses bersama dengan yang lain, tidak sukses diatas kepedihan orang lain.

Semoga diskusi mengenai Corporate Culture dan lahirnya nilai-nilai inti di IBMT ini dapat menjadi satu hal yang berguna dan menjadi masukkan dalam pikiran kita bahwa hal-hal yang bernilai, bermanfaat dan sesuai dengan kebenaran hakiki dapat ditularkan kepada orang-orang sekitar, baik di internal bisnis kita maupun pihak eksternal.

Semangat Berjuang!!!

Related Blogs

%d bloggers like this: