Milenial Cepat Berpindah Kerja, Apakah Baik untuk Karier Mereka?

just info #3 instagram
Dunia karier dan generasi milenial adalah dua hal yang kerap menimbulkan beragam topik pembicaraan. Selain tentang jenis pekerjaan apa yang mereka minati, seberapa lama seorang milenial mampu bertahan di sebuah perusahaan pun menjadi sesuatu yang ramai untuk diperbincangkan.
Hal itupun mungkin sudah menjadi rahasia umum bahwa generasi milenial adalah ‘kutu loncat’ dalam dunia pekerjaan. Sebagai salah satu acuan, survei yang dirilis Deloitte pada Mei 2018 menunjukkan, 43 persen dari 10.455 karyawan milenial di 36 negara berencana untuk meninggalkan pekerjaannya dalam waktu tak lebih dari dua tahun.

Uniknya, alasan yang dikemukakan para milenial dalam survei tersebut tak semata-mata karena urusan finansial. Beberapa hal seperti kepercayaan terhadap etika perusahaan dan kontrubusi kepada masyarakat pun termasuk ke dalam pertimbangan mereka.

Lantas, apakah berpindah-pindah tempat kerja menjadi sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh para milenial? Pemerhati generasi milenial, Yoris Sebastian, memberikan tanggapannya mengenai hal tersebut.

Ditemui beberapa waktu lalu di kawasan SCBD, Jakarta, Yoris menjelaskan bahwa apa yang ia temukan dari para milenial saat menulis bukunya yang berjudul ‘Generasi Langgas: Millennials Indonesia’, mereka adalah ‘kutu loncat’ dalam urusan pekerjaan. Meskipun, ada juga beberapa yang bisa bertahan 3-5 tahun dalam satu perusahaan.

Hal itu, menurutnya, adalah kebebasan yang dimiliki oleh para generasi milenial, mereka mempunyai pilihan untuk bekerja di perusahaan dengan ukuran yang berbeda, baik untuk waktu yang singkat maupun lama.

“Yang terpenting buat saya, kalau misal dia bertahan 3-5 tahun di satu perusahaan, selama dia setiap tahunnya merasa berkembang dan mendapat tantangan baru, kenapa mereka harus pindah? Menurut saya kenapa kadang mereka cepat pindah itu karena perusahaannya yang sekarang tidak memberikan itu,” tutur Yoris.

Yoris sendiri mendukung para milenial untuk berpindah-pindah kerja selama apa yang mereka cari adalah untuk pengembangan diri, bukan karena hal-hal yang sebenarnya sepele.

“Jangan hanya karena beda gaji sedikit, pindah. Saya juga tadi bilang, hati-hati, kalau zaman dulu kami (generasi X) enak karena tekanan yang ada cuma dari teman. Sekarang, tekanan itu ada juga dari media sosial,” katanya.

Sarannya, sebaiknya para karyawan milenial mencoba untuk bertanya kepada atasan di kantornya mengenai prospek karier mereka. Mungkin saja dengan hal tersebut, kantor tempatnya bekerja bisa memberikan tantangan baru. Sebab, menurutnya, terkadang generasi X tidak memberi tahu rencananya untuk para milenial.

“Itu yang saya pelajari. Ada beberapa milenial di kantor saya yang punya potensi naik (jabatan), dan saya bilang, ‘kamu satu tahun lagi akan saya promosikan. Tapi kekurangan kami ini’. Jadi tidak diberi tahun saat dia mengajukan surat resign,” lanjut Yoris.

“Enggak boleh seperti itu kalau ke generasi milenial, dia harus tahu kalau kita punya plan untuk dia,” tutupnya.

Sumber : kumparan.com

Related Blogs

%d bloggers like this: