Terorisme dan pesan damai Nyepi

handy-aribowo-dosen-stie-ibmt-school-of-management-surabaya

Terorisme dan pesan damai Nyepi
Oleh Handy Aribowo (Dosen STIE IBMT Surabaya)
Koran Jakarta Senin 27/3/2017

 

Menjelang Nyepi, 28 Maret 1939, berbagai kawasan di dunia terus menghadapi ancaman terorisme. Warga London, Inggris dikejutkan ulah seorang teroris yang mengendarai mobil dan menabrak puluhan pejalan kaki di trotoar Westminster Bridge. Mobil terus melaju sampai akhirnya berhenti di depan gedung parlemen.
Pelaku yang bersenjata pisau turun mobil dan menikam seorang polisi penjaga kompleks gedung parlemen. Pelaku akhirnya ditembak mati polisi setelah beraksi. Polisi Inggris telah menyatakan serangan pada hari Rabu (22/3) menewaskan lima orang, termasuk pelaku dan sekitar 40 lainnya luka-luka (Perspektif, Koran Jakarta,24/3).

Sedangkan di negeri ini, apresiasi perlu diberikan kepada Densus 88 yang baru menangkap delapan terduga teroris. Empat di antaranya dibekuk dalam perburuan di Cilegon, Kamis (23/3) siang. Dalam penangkapan itu tersangka NK tewas karena melawan. Menurut Jurubicara Mabes Polri Boy Rafli Amar, NK berencana menggelar pelatihan militer di Halmahera, Maluku Utara. Wilayah Halmahera ini sedianya bakal dijadikan basis militer kelompok Jamaah Ansharu Daulah (JAD) untuk menggantikan Poso.

Meski sudah banyak korban jatuh baik kalangan teroris sendiri maupun warga sipil, tetap saja ada orang yang bisa dibujuk menjadi teroris. Bahkan ada ratusan warga bergabung dengan kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Menurut Pengamat terorisme Nasir Abas, salah satu faktor WNI tergoda menjadi teroris seperti ISIS karena kebencian terhadap rezim. Pemerintah dinilai tidak menjalankan syariat Islam dan banyak berbuat dosa atau kesalahan. Kaum radikal sekaligus teroris seperti Imam Samodra (mendiang) punya konsep “cosmic war” yakni peperangan antara yang baik dan jahat.

Imam Samodra adalah pelaku peledakan bom Bali 12 Oktober 2005 yang menewaskan 202 orang. Bagi kaum radikal seperti dia, setiap aksi merupakan tindakan sah. Indonesia juga dinilai sebagai antek kekuatan kolonialis (Amerika atau barat) yang menindas umat Islam.

Menurut buku karangan Mark Juergensmeyer Teror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (University of California Press, 2000), konsep cosmic war adalah peperangan antara baik dan jahat. Para teroris selalu yakin perjuangannya tidak salah. Mereka menganggap justru berjuang membela agama melawan dominasi jahat (dalam hal ini Amerika/Barat) sehingga kekejian atau kebiadaban terhadap para lawan mendapat restu Tuhan. Itulah keyakinan umum kaum radikal.

Radikalisme adalah sebuah gejala sebagai reaksi terhadap modernisme karena dianggap membahayakan atau menggoyahkan keyakinan keagamaan. Paham ini telah menimbulkan sikap eksklusivisme keagamaan.

Konyolnya, di negeri ini, radikalisme justru kian menguat. Padahal dulu Indonesia dikenal penuh toleransi. Memang memprihatinkan, ada anak-anak muda kian terpesona pada radikalisme.

Dasar negara Pancasila, hanya dianggap angin lalu oleh kaum radikal yang akal sehatnya sudah “dicuci” para guru agama yang menenamkan benih-benih kebencian kepada sesama manusia. Tak heran akal sehat mereka sudah mati sehingga tidak bisa memahami bahwa membunuh, apalagi memenggal, serta mengumbar brutalitas adalah kebiadaban.

Padahal agama adalah bagian tak terpisahkan dari peradaban agar manusia tidak jatuh dalam kebiadaban. Agama merupakan buah refleksi pikir dan olah batin manusia dalam relasinya dengan Yang Maha Tinggi. Tujuannya, agar tata hidup bersama tetap berada dalam bingkai keberadaban, bukan kebiadaban. Tak heran di Bali, antara agama (Hindu) dan kebudayaan Bali sungguh tidak bisa dipisahkan. Maka, agama Hindu di Bali pun disebut Hindu Bali.

Penyimpangan

Tindakan kaum radikal mengumbar kekerasan atau kebiadaban merupakan penyimpangan keagamaan dan menjadi tragedi memilukan dalam sejarah peradaban umat manusia. Bahkan negeri kita pun ikut tercoreng. Sebagaimana diketahui, Indonesia dulu dikenal ramah atas berbagai macam perbedaan (suku, agama, ras, antargolongan/ SARA). Indonesia merupakan negeri majemuk.

Bahkan toleransi dan penghargaan pada keberagaman diapresiasi di mana-mana. Raja Salman dan rombongannya dari Arab Saudi bahkan kerasan dan terpesona Bali yang rukun antarwarganya.

Maka, salah satu langkah mendesak yang harus diambil melakukan deradikalisasi diri atau moderasi. Hanya dengan deradikalisasi, jati diri Indonesia yang majemuk dan beragam, akan bisa dijaga dan selamatkan dari ancaman radikalisme. Deradikalisasi lewat jalan budaya atau civilisasi, humanisasi secara beradab adalah solusi melawan radikalisme.

Lalu apa kaitan semua itu dengan Nyepi yang merupakan Tahun Baru Saka. Nyepi tahun ini berusia 1939. Namun lebih dari sekadar perayaan pergantian tahun, Nyepi juga merupakan hari yang disucikan umat Hindu.

Untuk itu, selama Nyepi dilangsungkan beberapa ritual seperti melasti, tawur kesanga, upacara yoga Samadhi. Mereka menjalankan empat pantangan wajib: amati geni (tak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelanguan (menghindari hedonism), dan amati lelungan (tidak bepergian).

Nah, dalam rangkaian ritual Nyepi tadi, kita bisa melihat betapa umat Hindu berusaha melakukan introspeksi dan penyucian diri serta pertobatan agar terhindar dari kuasa kejahatan seperti serangan teroris dari kaum fundamentalis. Dengan jiwa raga suci, umat Hindu mencoba menjaga harmoni dengan Sang Pencipta dan alam semesta.  

Dengan demikian, Nyepi berusaha menjaga keseimbangan serta mengakhiri segala yang buruk seperti dipertontonkan para jihadis ISIS atau siapa pun yang doyan mengumbar kekerasan dan kebiadaban. Proses mewujudkan keseimbangan oleh umat Hindu ini boleh jadi merupakan deradikalisasi diri sendiri sehingga tak tergoda lagi pada ekstremitas yang ditawarkan kaum radikal.

Dengan demikian, musuh manusia bukanlah penganut agama lain, tapi siapa pun yang melegalkan kekerasan, teror, dan kebiadaban. Semoga Nyepi 1939 sungguh membawa damai di hati

Blog Attachment

Related Blogs

%d bloggers like this: