Surabaya — Dosen Program Pascasarjana (S2) STIE IBMT Surabaya turut berperan aktif dalam penguatan wawasan kebangsaan melalui keikutsertaan sebagai pengisi dalam Seminar Kebangsaan bertema “Menjadi Bagian Menjaga Keamanan dan Ketertiban Bangsa”. Kegiatan ini diselenggarakan pada 20–21 Januari 2026 bertempat di Hall Sekolah Tinggi Teologi (STT) Anugrah Indonesia, Surabaya, dan diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, tokoh masyarakat, rohaniawan, hingga mahasiswa.

Seminar kebangsaan ini menghadirkan narasumber utama Sarman Simanjorang, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Asosiasi Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI). Dalam paparannya, Dr. Sarman Simanjorang menekankan pentingnya peran seluruh elemen bangsa, termasuk kalangan akademisi dan institusi pendidikan tinggi, dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban nasional.

Dalam seminar tersebut, Dr. Sarman secara khusus menyoroti pentingnya kerukunan umat beragama sebagai fondasi utama dalam menciptakan keamanan dan ketertiban di Indonesia. Ia menegaskan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan sebuah realitas yang harus diterima dan dikelola secara bijaksana. Menurutnya, persatuan bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis, tetapi merupakan pilihan sadar yang harus terus diperjuangkan oleh seluruh warga negara.

Lebih lanjut, Dr. Sarman menjelaskan bahwa nilai Bhinneka Tunggal Ika sejatinya sejalan dengan nilai-nilai universal yang juga diajarkan dalam kitab suci, termasuk nilai-nilai Alkitab. Perbedaan suku, agama, dan budaya tidak seharusnya dijadikan alat pemecah belah, melainkan harus dikelola dengan hikmat, kedewasaan, dan tanggung jawab moral. Dalam konteks ini, iman dan nilai spiritual dipandang memiliki peran penting dalam membentuk karakter warga negara yang cinta damai dan menjunjung tinggi persatuan.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Sarman juga memaparkan sejumlah tantangan kebangsaan yang dihadapi Indonesia saat ini, antara lain:

  1. Polarisasi sosial dan politik yang semakin tajam di tengah masyarakat.

  2. Maraknya hoaks serta ajaran kebencian, terutama yang menyebar melalui media digital.

  3. Intoleransi dan radikalisme yang berpotensi mengganggu persatuan dan stabilitas nasional.

Menghadapi tantangan tersebut, Dr. Sarman menekankan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan kedewasaan iman dan kedewasaan berpikir. Masyarakat, khususnya generasi muda dan kalangan terdidik, dituntut untuk menjadi pribadi yang kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam menyikapi informasi, terutama di ruang digital. Sikap mudah terprovokasi dan menyebarkan informasi tanpa verifikasi dinilai dapat memperkeruh suasana serta mengancam kerukunan sosial.

Partisipasi dosen S2 STIE IBMT Surabaya dalam seminar kebangsaan ini mencerminkan komitmen institusi dalam mendukung pendidikan karakter, wawasan kebangsaan, serta penguatan nilai-nilai persatuan dan toleransi. STIE IBMT Surabaya meyakini bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kompetensi profesional, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam membentuk generasi yang berintegritas dan berjiwa kebangsaan.

Seminar kebangsaan ini menjadi ruang refleksi bersama bahwa keamanan dan ketertiban bangsa bukan semata tugas aparat negara, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat Indonesia.